10 Sejarah Nama Daerah Ngehits Di Jakarta Yang Harus Kamu Ketahui!

Tanggal 15 Februari 2017 ? Ada apaan sih ? Hayo yang ngaku anak Jakarta sudah tahu dong ya , di tanggal tersebut akan digelar pesta demokrasi pemilihan gubernur DKI Jakarta untuk 5 tahun ke depan . Tentu saranku , kalian sebagai mujahid yang berjuang di jalan Allah , pilihlah pemimpin yang se – aqidah dengan kita yap!

Nah berhubung banyak banget tuh TPS (tempat pemungutan suara) yang tersebar di seluruh wilayah Jakarta , by the way teman-teman sudah pada tahu nama + sejarah tempat yang ngehits di Jakarta belum ? Seperti Sunda Kalapa , Senayan atau Kemayoran ? Siapa tahu di hari-H teman-teman dapat tugas untuk kawal beberapa TPS di berbagai tempat kan . Maybe? Hehehe . . .
Setelah baca artikel dan literatur sejarah , alhamdulillah saya temukan jawabannya! Alright , penasaran ? Sudah nggak sabar yah ? Kuy berikut ulasan singkat 10 asal usul nama tempat (randomly dan cukup terkenal) dari ke-5 kotamadya di Jakarta . Nyok disimak baik-baik ye . . . ~

1. Matraman
Untuk asal usul mengenai namanya, sampai kini masih belum diperoleh keterangan yang memuaskan. Namun, diperkirakan pada mulanya kawasan Matraman dijadikan daerah pertahanan oleh pasukan kerajaan Mataram dalam rangka penyerangan kota Batavia melalui jalur darat. Adapula menurut sumber lain mengenai asal usul daerah Matraman adalah, kawasan ini diberikan kepada masyarakat Jawa oleh Mataram setelah kerajaannya berada di bawah pengaruh Kompeni dan ditandatanganinya perjanjian antara Mataram dengan VOC pada tanggal 28 Februari 1677 . Kini, Matraman menjadi nama sebuah kecamatan yaitu Kecamatan Matraman, Kotamadya Jakarta Timur

2. Cawang
Kalian tentu tahu nama daerah ini bukan ? Yap, daerah yang sama persis dengan nama salah satu stasiun kereta api Jabodetabek, yaitu Cawang berasal dari seeorang letnan Melayu bernama Enci Awang, yang hidupnya mengabdikan diri kepada Kompeni. Ia bersama pasukannya tinggal di daerah tersebut. Lama kelamaan, warga sekitar memanggil Enci Awang menjadi Cawang. Sebagai info tambahan, awal abad ke-20 Cawang sempat heboh karena bermukim seorang pesilat beraliran kebatinan bernama Sairin. Ia dituduh pemerintah kolonial Belanda sebagai dalang kerusuhan di Tanggerang pada tahun 1924 dan juga terlibat pemberontakan Entong Gendut di Condet tahun 1916. Kini daerah Cawang menjadi nama kelurahan dengan Kecamatannya yaitu Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur

3. Marunda
Marunda merupakan nama sebuah kelurahan , Kecamatan Cilincing , Kotamadya Jakarta Utara . Mengenai asal usul pemberian nama daerah ini merujuk pada pendapat jika nama daerah Marunda diambil dari nama sungai yang mengalir di sana, yaitu Sungai Marunda. Pendapat lainnya mengatakan bahwa penamaan Marunda berasal dari nama pohon yang banyak tumbuh di sekitar daerah tersebut . Marunda adalah sebutan penduduk setempat terhadap pohon sejenis mangga beraroma menyengat atau biasa disebut kebembem , dengan nama ilmiahnya yaitu , Mangifera Laurina Bl.

4. Sunda Kalapa
Nama awalnya daerah ini adalah Kalapa yang merupakan pelabuhan utama Kerajaan Sunda atau lebih populer dengan sebutan kerajaan Pajajaran . Oleh pelaut Portugis , nama pelabuhan Kalapa tersebut diubah menjadi Cunda Calapa atau Sunda Kalapa . Pada tahun 1527 Sunda Kalapa berhasil direbut dari Portugis oleh pasukan Kerajaan Demak dan Cirebon , di bawah pimpinan Fatahillah . Bertepatan pada peristiwa tersebut maka diabadikanlah menjadi Hari Ulang Tahun Kota Jakarta yaitu jatuh pada tanggal 22 Juni 1527 Masehi . Nama Sunda Kalapa akhirnya diganti menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan mutlak . Hingga kini pelabuhan Sunda Kalapa masih tetap aktif sebagai jalur perdagangan . Sunda Kalapa merupakan kawasan yang termasuk dalam kotamadya Jakarta Utara

5. Senayan
Menurut sejarah , sekitar tahun 1680 hiduplah seorang asal Bali bernama Wangsanayan berpangkat letnan di kawasan tersebut . Kemudian pada tahun 1902 di peta terbitan Topographisch Bureau Batavia , kawasan ini masih tercantum dengan nama Wangsanajan atau Wangsanayan . Lama kelamaan , nama tersebut berubah menjadi lebih singkat yaitu Senayan . Di kawasan ini pula pada awal tahun 1960 dibangun sebuah Gelanggang Olah Raga bertaraf Internasional yaitu Gelora Bung Karno

6. Kemayoran
Sejarah dari nama Kemayoran bermula dari seorang pemilik tanah yang kaya raya bernama Isaac de Saint Martin , kelahiran Prancis yang mengabdi kepada VOC . Pada tahun 1662 Isaac de Saint Martin berpangkat Mayor , ikut serta pada peperangan Cochin kemudian perang di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada saat Kompeni membantu Mataram menghadapi Pangeran Trunojoyo . Begitulah kisah singkat awal dinamakannya daerah Kemayoran yang dahulu pernah menjadi kawasan lapangan terbang dan kini menjadi arena Pekan Raya Jakarta , yang namanya diambil dari sebuah pangkat Issac de Saint Martin yaitu ‘ Mayor ’

7. Manggarai
Dahulu kala penghuni pertama daerah Manggarai , yang termasuk Kotamadya Jakarta Selatan merupakan koloni orang Flores Barat , Nusa Tenggara Timur . Sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap wilayah asalnya di Flores , rupanya mereka menamakan daerah tersebut sama persis dengan yang ada di daerahnya , yaitu Manggarai . Menarik untuk diketahui nih , sebelum meletus Perang Dunia ke-2 , di wilayah Manggarai terkenal sebuah tarian bernama lenggo yang biasanya diiringi orkes tiga buah rebana biang . Kini tari lenggo lebih dikenal masyarakat dengan nama belenggo , yang menjadi salah satu tarian tradisi Betawi . Info menarik lainnya yang perlu diketahui adalah peninggalan utama Belanda di wilayah Manggarai yang terkenal antara lain , bengkel dan stasiun kereta api Manggarai

8. Ragunan
Mendengar nama Ragunan, yang terbayang oleh kita adalah Kebun Binatangnya yang terkenal . Yap , Ragunan merupakan nama kelurahan , Kecamatan Pasar Minggu dan Kotamadya Jakarta Selatan . Silsilah penamaan Ragunan , berawal dari kisah seorang kompeni Belanda bernama Hendrik Lucaasz Cardeel yang mengaku melarikan diri dari Batavia karena ingin memeluk agama Islam . Ia ingin membaktikan dirinya kepada Sultan Banten (Sultan Ageng Tirtayasa) . Dua bulan setelah terbakarnya keraton Surasowan , tempat bertahtanya Sultan Ageng Tirtayasa , Cardeel diutus oleh Sultan untuk membangun kembali keraton .
Di saat yang bersamaan , Sultan Haji mendesak agar dinobatkan menjadi Sultan dengan meminta pertolongan kompeni , yang tak lain dan tak bukan adalah Hendrik Lucaasz Cardeel . Alhasil terjadilah pertempuran antara ayah , Sultan Ageng Tirtayasa dengan anaknya sendiri yaitu Sultan Haji . Atas kemenangan Sultan Haji , Cardeel diberikan penghargaan berupa gelar Pangeran Wiraguna dan mendapatkan sejumlah hektar tanah . Sebagai tuan tanah yang kaya raya , Cardeel memiliki tanah terluas di daerah yang mengingatkan kita pada sosok Hendrik Lucaasz Cardeel yang bergelar Pangeran Wiraguna , yaitu Ragunan . Di daerah ini pula ia dimakamkan dan hingga kini makamnya dikeramatkan oleh sebagian masyarakat

9. Angke
Kawasan Angke merupakan sebuah kelurahan , termasuk Kecamatan Tambun , Kotamadya Jakarta Barat . Menurut sumber naskah Bujangga Manik , pada abad ke-15 , ada seorang anak buah kapal (ABK) yang melakukan perjalanan dari Pemalang menuju Kalapa menggunakan perahu . Di dalam naskah tersebut tertulis kalimat ini “… nu badayung urang Tanjung , nu nimba urang Kalapa , nu babosek urang Angke …” artinya , (yang mendayung orang Tanjung , yang menimba orang Kalapa , yang mengayuh orang Angke)

10. Glodok
Pada tahun 1643 , di kawasan tersebut terdapat jembatan bernama Jembatan Glodok yang melintasi Kali Besar dengan ujung jembatan tersebut terdapat tangga-tangga yang menempel pada tepi kali . Tangga-tangga tersebut digunakan oleh penduduk sekitar sebagai tempat untuk mandi dan mencuci . Dalam bahasa Sunda , tangga semacam itu disebut golodok . Kemudian asal usul lainnya mengenai penamaan Glodok adalah , sekitar tahun 1670 di kawasan tersebut terdapat waduk penampungan air dari sungai Ci Liwung yang dikucurkan menggunakan pancuran kayu dari ketinggian kurang lebih 10 kaki . Karena terdapat suara kucuran air dari pancuran inilah , masyarakat tiong hoa totok yang menjadi penduduk mayoritas kawasan tersebut menyebut grojok , kemudian berubah menjadi glodok sesuai dengan aksen lidahnya . Kini Glodok dijadikan nama kelurahan di wilayah Kecamatan Taman Sari dan termasuk dalam Kotamadya Jakarta Barat

Gimana nih , mudah-mudahan dengan tulisan ini , teman-teman sedikit tahu lah ya beberapa nama tempat berikut sejarahnya . Biar dibilang anak gaul Jakarta kan ? Hahahaha . . . 😀

Izinkan saya berpantun sejenak menutup tulisan kali ini :

“ Ke Senayan ame bang Jaka , cukup sekian tulisan nama tempat di Jakarta ” Just for Enjoy Jakarta !

*****

Ditulis oleh : Nadia Zahra
Sumber Buku :
Ruchiat Rachmat , 2011 , Asal Usul Nama Tempat Di Jakarta , (Masup : Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *