JAKARTA – Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) sukses menggelar Rest Area 2, sebuah acara bertemakan self-growth, yang berlangsung di Taman Masjid Agung Sunda Kelapa pada Ahad (30/8). Acara ini mendapat sambutan antusias dari para peserta dari berbagai latar belakang di wilayah Jabodetabek.
Karina, perwakilan dari Teman Berproses yang mengisi sesi Pojok Komunitas, menyampaikan kekagumannya atas keberagaman usia peserta yang hadir.
“Saya senang melihat ada adik-adik yang datang. Awalnya saya pikir materi jurnal yang dibawakan terlalu berat untuk usia mereka, tetapi ternyata mereka mampu mengisinya hingga satu halaman penuh. Jurnal kami menjangkau spektrum audiens yang lebih luas. Saya juga sangat mengapresiasi semangat para peserta yang tetap antusias meski beraktivitas di bawah terik matahari,” ujar Karina.
Rest Area 2 juga menjadi momentum penting karena menjadi wadah kolaborasi perdana antara Teman Berproses dan komunitas berbasis keagamaan.
“Jika ada tiga kata yang menggambarkan acara ini, yaitu: kolaboratif, positif, dan berdampak. Kolaboratif terlihat dari semangat peserta yang hadir di sini. Suasana positif sangat terasa dari sambutan hangat panitia sejak aku datang. Sementara aspek berdampak terlihat dari tingginya antusiasme orang-orang untuk memakmurkan masjid, menjadikan masjid sebagai ruang kumpul yang produktif, bukan sekadar tempat sholat lalu pulang,” tambah Karina.

Di tengah berlangsungnya acara Rest Area 2, Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Sunda Kelapa turut mengumumkan sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba Content Creator (kategori Reels dan Fotografi). Lomba yang digelar dalam rangka menyemarakkan Gema 55 Tahun Masjid Agung Sunda Kelapa ini mengusung tema “Masjid sebagai Pusat Peradaban.”
Acara ini turut dimeriahkan oleh sesi live podcast yang menghadirkan drg. M. Atiatul Muqtadir (Fathur), seorang dokter gigi, dan penulis. Dalam pemaparannya, Fathur menekankan pentingnya keluar dari zona nyaman untuk mencapai pertumbuhan diri.
“Jika kita ingin bertumbuh, ada harga yang harus dibayar. Prosesnya sering kali melelahkan, bahkan menyakitkan. Pilihannya kembali kepada diri kita sendiri, apakah mau ambil kesempatan itu atau tidak,” tutur Fathur.
Fathur juga memberikan apresiasi tinggi kepada para anak muda yang memilih menginvestasikan waktu libur akhir pekan untuk menuntut ilmu.
“Orang-orang yang hadir hari ini adalah anomali—datang menimba ilmu di saat orang lain menikmati hari libur. Ini adalah bentuk komitmen untuk terus belajar,” ungkapnya.
Mengutip Al-Qur’an Surat Adz-Dzariyat Ayat 56: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”, Fathur mengajak seluruh peserta untuk terus memperbaiki diri, meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala , serta memahami makna dari setiap ibadah yang dijalani.
Membuka Ruang Kolaborasi Strategis
Kesuksesan Rest Area 2 tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari komunitas dakwah, komunitas hobi, Lembaga Dakwah Kampus (LDK), hingga Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jabodetabek. Acara ini juga didukung oleh media partner (Soul of Jakarta dan Event Jakarta), community partner (Beneran Indonesia, Klub Corat Coret, dan Hijabers Community), serta dukungan dari SAFI dan Kopi Kontainer.
Ketua Umum RISKA, Rizaldi Prasetyo, menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai komitmen jangka panjang.
“Rest Area dirancang bukan sekadar acara sekali selesai, melainkan sebuah gerakan yang berkelanjutan. Kami membuka pintu selebar-lebarnya untuk kolaborasi strategis bersama para brand (sponsor), media partner, serta community partner demi menyukseskan Rest Area 3 yang akan datang,” tutup Rizaldi.


